RAMALAN NKRI dari ZAMAN KUNO He..He…

Silsilah_nabi_dan_rasul Perkenankan
saya menyampaikan ini dari persepsi   Spiritual mengenai segala hal yang terjadi
pada bangsa ini.
Tapi  saya mendapatkan  artikel  ini  dari  Forum  Sebelah  tanpa  menambahi  sedikit  apapun.

1.
Bencana-bencana yang terjadi sejak dari Tsunami Aceh yang kemudian diikuti
dengan  bencana-bencana lain (gempa
bumi, banjir bandang, flu burung, gagal panen, gunung meletus, sampai dengan
lumpur panas Sidoarjo) adalah merupakan ketetapan Allah SWT yang harus terjadi
dan merupakan peringatan keras kepada bangsa ini, khususnya dialamatkan kepada
pemimpin negeri. “Tidak ada rakyat yang salah, yang ada adalah pemimpinnya yang
salah”. Hal ini dikarenakan selama ini telah terjadi “Pelanggaran Aqidah” baik
ulama maupun umaro’nya. Singkat kata banyak yang telah meninggalkan “Syahadat”.
Batin diabaikan, Lahir diutamakan. Akal penalaran menjadi dewa, sementara yang
Batin disingkirkan karena dianggap “takhayul”. Padahal segala kejadian
bersumber dari Allah Yang Maha Gaib, yang tidak dapat ditembus oleh akal
manusia sebagai ciptaan-Nya. Hanya dengan “mata batin” orang-orang yang telah
tersucikan saja segala sesuatu dapat dimaknai.

2.
Bangsa ini telah meninggalkan sejarah. Apa yang dikatakan Bung Karno : “Jangan
Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” telah terabaikan. Padahal yang
terjadi saat ini merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Dan apa yang terjadi
saat ini telah diprediksikan oleh para leluhur kita Prabu Jayabaya dan R.Ng.
Ronggowarsito, yang mana hasil karya mereka merupakan ayat-ayat Allah. Perlu
kiranya saya sampaikan cuplikan terjemahan bebas dari karya mereka :

A. Prabu
Jayabaya (Kitab Musarar) :

18. Nama
rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu
lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan
hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah.
Keterangan :
Lung Gadung Rara Nglikasi : Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun
memiliki kelemahan suka wanita (Soekarno). Gajah  Meta


Semune Tengu Lelaki : Raja yang disegani/ditakuti, namun nista (Soeharto).


19. Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian
negara geger. Tanah tidak berkhasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka.
Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.


20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri.
Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro
semune Pajang Mataram.
Keterangan :
- Bupati berdiri sendiri-sendiri : Otonomi Daerah.
- Jaman Kutila : Reformasi
- Raja Kara Murka : Raja-raja yang saling balas dendam.
- Panji Loro semune Pajang Mataram : Dua kekuatan dalam satu kubu yang saling
ingin menjatuhkan (Gus Dur - Megawati ).


21. Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana tidak
ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian
diganti dengan lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar.
Keterangan :
- Nakhoda : Orang asing.
- Sarjana : Orang arif dan bijak.
- Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar : Ratu yang selalu   
diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya (Megawati).


22. Tan kober apepaes, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang
menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah
yang mengerti/memahami lambang tersebut.
Keterangan :
Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben : Raja yang tidak sempat mengatur
negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan (SBY/Kalla).


23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat
kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi, orang besar
hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.


24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti.
Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan
menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.


25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh
ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.


26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan
gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka
Kutila musnah.


27. Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih semune Pudak kasungsang. Lahir di
bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Raja Amisan, redalah kesengsaraan
di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

Keterangan
:
- Tunjung Putih semune Pudak Kesungsang : Raja berhati putih namun masih
tersembunyi (Satriya Piningit).
- Lahir di bumi Mekah : Orang Islam yang sangat bertauhid.


28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya
dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang
raja yang terkenal sedunia.


Keterangan :
- Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa : Orang Islam yang sangat menghormati
leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa.


29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan
bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya
tampan senyumnya manis sekali.

 

 

 

 

B. R.Ng.
Ronggowarsito :

Dipaparkan
ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari
akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit
, yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung
Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio
Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito
Sinisihan Wahyu.

Berkenaan
dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio
Piningit itu adalah sebagai berikut :

1. SATRIO
KINUNJORO MURWO KUNCORO.
Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro),
yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian
menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro).
Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden
Pertama Republik  Indonesia
yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun
1945-1967.

2. SATRIO
MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.
Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti)
juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu
dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan /
kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai
Soeharto, Presiden Kedua Republik
Indonesia  dan pemimpin Rezim Orde
Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

3. SATRIO
JINUMPUT SUMELA ATUR.
Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan
tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela
Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga
Republik 
Indonesia .
Berkuasa tahun 1998-1999.

4. SATRIO
LELONO TAPA NGRAME.
Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia
(Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan
Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik 
Indonesia .
Berkuasa tahun 1999-2000.

5. SATRIO
PININGIT HAMONG TUWUH.
Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan
dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai
Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik 
Indonesia . Berkuasa tahun
2000-2004.

6. SATRIO
BOYONG PAMBUKANING GAPURO.
Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan
akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman
keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh
yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin
bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan
Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria
piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat 
Indonesia
sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat
dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman
bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus
terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.

7. SATRIO
PINANDITO SINISIHAN WAHYU.
Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius
sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan
senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu).
Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan
mencapai zaman keemasan yang sejati.

3. Dari
kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa segala sesuatunya
memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat ditolak. Sementara berkaitan
dengan bencana terakhir yang terjadi, yaitu meletusnya Gunung Merapi yang
kemudian disusul dengan Gempa Yogya dan Pangandaran, serta Semburan Lumpur
Panas Sidoarjo yang tak kunjung berhenti merupakan realita ucapan “Sabda Palon”
kepada Prabu Brawijaya dan Sunan Kalijaga.

Berikut
ini saya paparkan Ramalan Sabdo Palon :

1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara
Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan
Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu
Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda-Palon
sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam
sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda
Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini
raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu
serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4.
Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami
mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha
(maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.

5. Bila
ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan
lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya
akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi
meletus dan memuntahkan laharnya.

6. Lahar
tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya
datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan
bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus
bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7. Kelak
waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji.
Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba
sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang
meninggal dunia.

8. Bahaya
yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak
mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai
bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9.
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja
hasilnya tidak mencukupi.
Para priyayi banyak
yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya
tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang
di hutan.

10. Bumi
sudah berkurang hasilnya. Banyak 
hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat
sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis
banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak
mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal
tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit
tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal
dunia.

12. Bahaya
penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat
waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai
meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13.
Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu
banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut.
Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri
sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan
kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal
sedikitpun.

15. Gempa
bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga.
Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia
mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak
dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16.
Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak
lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali
tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana
lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Keterangan
:
Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan hari
Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke arah Barat Daya
(serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi dari “Siaga” menjadi
“Awas”). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di atas, maka dengan keluarnya lahar
Merapi ke arah Barat Daya menandakan bahwa Sabdo Palon sudah datang kembali.
500 tahun setelah berakhirnya Majapahit (Th 1500 an) adalah sekarang ini di
tahun 2000 an.

4. Sampai
dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2 orang meninggal. Sebelum
letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan bahwa Merapi akan meletus
dalam waktu 10 hari, ternyata tidak terbukti. Karena ucapan yang mendahului
kehendak Allah (ndisiki kerso) yang tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar
oleh seorang “raja”, maka Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran) yang
banyak memakan korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua tidak tersadar
bahwa Merapi sebenarnya tetap meletus, namun berpindah tempat di Sidoarjo
dengan semburan lumpur panasnya yang beracun. Semburan lumpur panas ini
merupakan peristiwa yang sangat luar biasa yang dampaknya akan banyak menyedot
dana dan memakan korban jiwa. Secara penglihatan spiritual, teknologi apapun
dan kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak akan mampu menghentikan
semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan berpotensi memicu terjadinya
chaos (goro-goro) yang pada gilirannya akan dapat menjatuhkan pemerintah.
Sementara bencana-bencana ini akan terus berlanjut. Hanya seorang Waliyullah
(kekasih Allah) saja yang dapat meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti
ini selalu saja sangat tersembunyi.

5. Semua
peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa gaib, karena semua
terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Aza wa Jalla. Sehingga tidak
dapat dilawan dengan kesombongan akal pikiran. Solusi atau jawaban tentang apa
yang terjadi pada bangsa ini sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait
Ramalan Joyoboyo, R.Ng. Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu saja
tersembunyi. Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah : JOGLOSEMAR. Joglo
telah runtuh, yang ada tinggal Semar. Inilah hakekat kondisi negara saat ini.
Sebagai panduan perlu saya garis bawahi kata kunci yang ada di dalam bait-bait
karya leluhur kita, yaitu :

1. Di
dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI (Satriyo Boyong
Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi dengan seorang spiritualis
sejati satria piningit (tersembunyi) agar kepemimpinannya selamat.

2. Dalam
bait 22 ramalan Joyoboyo dikatakan “Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti
dan memahami lambang tersebut.”

3. Dari
ucapan Sabdo Palon dalam ramalan Sabdo Palon tersirat bahwa dengan fenomena
alam yang digambarkan (seperti yang terjadi saat ini) menandakan bahwa Sabdo
Palon beserta momongan (asuhan) nya telah datang untuk mem-Budi Pekertikan
bangsa ini (secara rinci terdapat di dalam Serat Darmogandul). Sabdo Palon
secara hakekat adalah Semar.

4.
JOGLOSEMAR = Jogja – Solo – 
Semarang

.
Dari peristiwa gempa Jogja telah membuktikan bahwa kerajaan Mataram Jogja &
Solo sudah tidak memiliki aura lagi. Hal ini terbukti dengan hancurnya Bangsal
Traju Mas (tempat penyimpanan pusaka kerajaan) dan Tamansari (tempat pertemuan
raja dengan Kanjeng Ratu Kidul). Hal lain adalah robohnya gapura makam HB IX
(Jogja) dan PB XII (Solo) di kompleks makam raja-raja Imogiri, sebagai
perlambang bahwa Keraton Jogja – Solo sudah tidak memiliki aura dan kharisma.
Sehingga yang tersisa tinggallah “  Semarang 
(Mataram Kendal).

6.Sebagai
masukan kepada Yang Mulia Presiden SBY guna mengatasi carut marut yang terjadi
pada bangsa ini, saya menyarankan :
”Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid/syeh-syeh yang telah
mencapai maqom “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu
agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja
& Solo, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa
sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri
ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu
mereka. Insya Allah, jika Allah Aza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan
diketemukan jawabannya.”

7. Sebagai
catatan akhir dapat saya garis bawahi hal-hal sebagai berikut :

a. Guna
mengatasi kondisi bangsa seperti sekarang ini (khususnya fenomena “Semburan
Lumpur Sidoarjo” ), saya menyarankan : “Jangan terlalu mengandalkan akal /
penalaran (lahiriah), tetapi utamakanlah hal yang bersifat Batin. Berpeganglah
kembali kepada sebenar-benar SYAHADAT, yaitu yang pertama bersaksi tiada
sesembahan lain selain Allah (Yang Maha Gaib), dan kemudian bersaksi bahwa
Muhammad (manusia) adalah utusan Allah.” Maknanya: ALLAH (Yang Maha Gaib)
mutlak diutamakan. Batin adalah lambang yang gaib. Sedangkan Muhammad (manusia
yang bersifat lahir) adalah utusan Allah. Dengan arti kata lain, yang “Lahir”
adalah utusannya yang “Batin”. Kondisi saat ini faktanya telah meninggalkan
“Syahadat”. Apa yang diucapkan sangat tidak sesuai dengan apa yang dilakukan.
Lahir diutamakan, sedangkan Batin di-nomor dua-kan dan bahkan ditinggalkan.

b.
Semburan lumpur panas di Sidoarjo secara hakekat merupakan tanda / lambang
bakal munculnya “Kebangkitan Majapahit II”. Ini merupakan fenomena awal dari
ucapan Bung Karno bahwa suatu saat 
Indonesia akan menjadi “Mercusuar
Dunia”.

c. Jawaban
dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat”
yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri
ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :
1.
Sunan Tembayat adalah Bupati pertama 
Semarang .
Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga
memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten).
Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin
Tiga), berada di daerah pinggiran 
Semarang
2.
Semarang Tembayat juga bermakna 
Semarang di
balik
Semarang .
Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib
penguasa 
Semarang
adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu”
itu.


3.
Semarang Tembayat dapat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat DaYA Tepi. Dapat
diartikan lokasinya adalah di 
Semarang
pinggiran arah Barat Daya.

Ini
merupakan deteksi gambaran secara spiritual. Silahkan untuk dikonfirmasikan
kepada ahli-ahli spiritual yang telah mencapai maqom (tingkatan) nya untuk
dapat menembus dimensi tabir spiritual yang tertutup kabut ini. Insya Allah…

One Response to “RAMALAN NKRI dari ZAMAN KUNO He..He…”

  1. MossackAnme™ Says:

    Hmm…saya melihat 2 kemungkinan siapa Sang Pinandito Sinisihan Wahyu…

    JK2009, atau Prabowo2014…??

Leave a Reply