Archive for July, 2007

Segitiga Masalembo - The Indonesian “Bermuda Triangle”

Monday, July 2nd, 2007

masalembo-triangle.gifDua
kecelakaan lalulintas pada awal tahun ini sangat memperihatinkan. Yang
pertamana kecelakaan lalulintas laut yang menimpa kapal laut Senopati
Nusantara, yang kedua kecelakaan Pesawat Adam Air. Keduanya diduga
terjadi pada waktu yang berdekatan di kawasan yang sama berdekatan juga di laut Utara Jawa, dan yang satu di seputar Masalembo.

Duapuluh enam tahun yang lalu KM Tampomas II terbakar di laut dan
karam pada tanggal 27 Januari 1981. Ah kenapa pada bulan-bulan yang
sama ya ? memang bulan-bulan ini merupakan bulan-bulan puncak perubahan
musim seantero Indonesia yang kepulauannya berada di sekitar
katulistiwa.

Tetapi kenapa kejadian kecelakaan ini di lokasi yang kira-kira sama ?
Ah jangan-jangan barangkali mungkin saja …

Pulau Masalembo sebenarnya sebuah pulau kecil yang berada di ujung
Paparan Sunda (hayo masih ingat Paparan Sunda dan Paparan Sahul nggak
?, ini pelajaran SD dulu kan ?). Pulau-pulau kecil ini berada di daerah
“pertigaan” laut yaitu laut jawa yang berarah barat timur dan selat
Makassar yang memotong berarah utara-selatan.

Pola kedalaman laut di Segitiga Masalembo ini sangat jelas
menunjukkan bentuk segitiga yang nyaris sempurna berupa segitiga sama
sisi. Lihat gambar dibawah.

masalembo-triangle.gif

Pada peta kedalaman laut atau peta bathymetri diatas dapat dilihat
adanya bentuk kepulauan yang berbentuk segitiga. Tinggian yang terdiri
beberapa pulau-pulau ini saya sebut sebagai “SEGITIGA MASALEMBO” atau “THE MASALEMBO TRIANGLE“.
Nah, ada apa saja di daerah seputaran Segitiga Masalembo ini. Coba kita buka-buka
dikit-dikit ya. Tapi jangan mengharap banyak dari sisi mistisnya, akan
lebih banyak saya urai sisi kebumian dan kelautannya saja D

world-triangle.gif

Pertemuan ARLINDO (Arus Laut Indonesia)

arlindo - Arus Laut Indonesia Indonesian Throughflow (ARLINDO), indicate the relationship between the relationship between ARLINDO and El-Nino Southern Oscillation (ENSO) (Source, Gordon, A., 1998)

Di atas ini digambarkan arus laut di Indonesia, terutama Indonesia
Timur. Coba perhatikan arus yang melewati Segitiga Masalembo ini. Pada
bagian atas (garis hijau) menunjukkan air laut mengalir dari barat
memanjang di Laut Jawa, berupa monsoonal stream atau arus musiman. Arus
ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sedangkan dari Selat
Makassar ada arus lain dari utara yang merupakan thermoklin, atau
aliran air laut akibat perbedaan suhu lautan. Kedua arus ini bertemu di
sekitar Segitiga Masalembo.

Yah, tentusaja arus ini akan sangat mempengaruhi pelayaran laut
disini. Arus musiman ini sangat dipengaruhi juga oleh suhu air laut
akibat pemanasan matahari tentusaja. Kalau anda masih inget bahwa
lintasan matahari itu bergerak bergeser ke-utara-selatan dengan siklus
tahunan. Itulah sebabnya pada bulan-bulan Januari yang merupakan saat
perubahan arus musiman (monsoon).

Apa menariknya dari ARLINDO ini ? Arus ini membawa air laut dingin
dari Samodra Pasifik ke Samodera Indonesia diduga dengan debit hingga 15 juta meterkubik perdetik !!! Dan hampir keseluruhannya melalui Selat Makassar !

Tentunya aliran air sebesar ini bukan sekedar aliran air saja.
Banyak aspek lain yang ikut mengalir dengan aliran air sebanyak itu,
misalnya akan terdapat pula aliran ikan-ikan laut, aliran sedimen laut,
juga aliran temperatur air. Apa saja efek aliran ini dengan proses
kelautannya sendiri ? Wah tentunya banyak sekali

Kalau digambarkan secara mudah barangkali profil selat makassar dapat dilihat seperti dibawah ini.

labani-channel.png

Pada profil dasar selat Makassar diatas terlihat batuan kalimantan
dan batuan sulawesi berbeda, kalau masih ingat yang aku tulis tentang
pembentukan Patahan-patahan di Jawa di tulisan sebelumnya disini, maka tentunya mudah dimengerti. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan mencolok antara Indonesia barat dengan Indonesia Timur, seperti yg ditulis disini sebelumnya.
Kalimantan merupakan bagian dari Paparan Sunda (Indonesia Barat) sedang
Sulawesi merupakan bagian dari Indonesia Timur. Nah garis yang
membaginya dulu diketemukan oleh Wallace disebut sebagai Garis Wallace (Wallace Line).
Garis Wallace ini sebenernya hasil penelitian satwa Indonesia
Barat-Timur, namun sebenarnya ada juga implikasi atau manifestasi dari
aspek geologis (batuan penyusunnya).

Dari Batuannya kita tahu bahwa dibawah selat makasar ini terdapat
tempat yang sangat kompleks geologinya, diatasnya terdapat selat
Makassar yang juga memilki karakter khusus di dunia ini dimana
mengalirkan air yang sangat besar.

Apa yang terlihat lagi ? Ya tentunya ada aspek meteorologis yang
memisahkan antara daerah diatas air dengan daerah diatas daratan yaitu
awan. Awan merupakan fenomena khusus yang paling banyak dijumpai diatas
daratan. Itulas sebabnya kalau sedang di tengah laut coba tengok ke
atas, carilah awan. Awan yang berarak akan lebih banya terdapat di
daratan ketimbang di atas lautan seperti gambaran diatas.

sumber www.e-dukasi.netApa lagi selain awan ?
Angin, ya angin juga akan berhembus karena perbedaan tekanan udara
panas. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi
menangkap ikan di laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya
angin laut, para nelayan.

Perubahan angin darat laut karena suhu ini berubah dalam siklus
harian, namun tentunya ada juga siklus tahunannya atau disebut siklus
monsoon. Looh Monsoon, kok sepertinya juga ada monsoonal stream yang
ada di Arlindo digambar atas. Ya, memang itulah siklus-siklus arus
angin, siklus air itu bertemu bercampur di segitiga Masalembo ini.
Runyem kan ?

Seringkali daerah Segitiga Bermuda dihubungkan dengan kondisi magnetisme. Adakah peta magnetik daerah Segitiga Masalembo ini ?

Nah aku beri sekarang  peta deklinasi  magnetik  secara global seperti dibawah ini.

magnetic-field-intensity.gif magnetic-field-declination.gif magnetic-field-declination-change.gif

Tiga peta diatas menunjukkan intesitas magnetik total, peta
deklinasi, dan perubahan deklinasi tahunan (sumber NOAA). Kalau
tertarik detilnya tinggal di klik saja. Yang dapat dilihat dalam ketiga
peta itu adalah, tidak adanya sesuatu yang mencolok baik di Segitiga
Bermuda maupun di Segitiga Masalembo. Memang sejak dulu seringkali yang
menyatakan adanya keanehan kompas magnetik apabila melalui daerah angker
ini. Secara fisik (pengukuran magnetik) tidak terlihat anomali itu.
Hanya terlihat bahwa Indonesia secara umum merupakan daerah yang
memiliki deklinasi dan iklinasi sangat kecil. Dan merupakan daerah yang
memiliki total intensitas magnetik rendah, barangkali karena Indonesia
merupakan daerah yang relatif “muda” dibandingkan daerah2 lain.

Kalau dibandingkan dengan Segitiga Bermuda, lokasi Segitiga Masalembo juga tidak menunjukkan keanehannya. Sepertinya keangkeran
segitiga Masalembo ini lebih ditentukan oleh faktor gangguan alamiah
yang bukan mistis. Yang mungkin paling dominan adalah faktor meteorologis termasuk didalamnya faktor cuaca,
termasuk didalamnya angin, hujan, awan, kelembaban air dan suhu udara
yang mungkin memang merupakan manifestasi dari konfigurasi batuan serta
kondisi geologi, oceaografi serta geografi yang sangat unik.

maslembo-triangle

Kalau memang Masalembo Triangle ini banyak
menimbulkan masalah transportasi (lalulintas), tentunya perlu
rambu-rambu lalulintas laut yang lebih canggih ditempatkan di lokasi
ini. Tetapi bukan berarti zona terlarang masa sih kita tidak boleh
melewatinya sepanjang masa. Misalnya mercusuar khusus, penempatan radar
pemantau. Juga yang tak kalah penting penelitian saintifik tentang
perilaku arus air laut, serta cuaca di daerah ini.

Asal Usul Nama Indonesia

Monday, July 2nd, 2007

Ditulis oleh EG Giwangkara S di/pada Maret 30th, 2007

IndonesiaPADA
zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai
(Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai
kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang
diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar,
seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu
menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana,
sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang
terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan
Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa
Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh
kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di
Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa”
oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun.
“Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda,
semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa
Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri
dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang
luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia
Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai
“Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan
Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau
“Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain
yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay
Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan
pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia
Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama
samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk
menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya
juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi
rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung,
Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada
di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker
(1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu
dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang
tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah
Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.
Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman
Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu
diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas
Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan
Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit.
Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau
di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang)
sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar
Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun
amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya
menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit
yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki
arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”,
sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern.
Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer
penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan
wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi
bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari
mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan,
Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang
dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang
meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun
1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl
(1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis
artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and
Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa
sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu
untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia
tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl
mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam
bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu)
daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah
bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu
Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah
Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson
Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada
awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan
tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan
membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan
huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka
lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak
pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the
ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of
Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is
merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian
Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak
menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan
negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia”
dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada
tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf
Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des
Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil
penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai
1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di
kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah
“Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara
lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan
Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia”
adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke
negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan
nama Indonesische Pers-bureau.

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah
ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia”
akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga
dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa
Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi
pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun
1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi
Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka,
Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka
yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil
disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat
menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia
menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena
melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan
untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha
dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische
Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun
1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische
Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang
mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia”
dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada
Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini
kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat;
DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan
Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda
agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama
“Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini
ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke
tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia
Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas
berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Sumber: milis kantor